Hidup di Kuba didominasi oleh kekuatan Castro akan kehilangan Kekuasaannya. Hal ini kadang membawa pada siuasi ABSURD. Bioskop-bioskop ditutup karena dinilai akan mempertontonkan film-film korup seperti "Singing in the rain" dan "Casablanca". Di sekolah-sekolah, kelas-kelas siswa ditentukan berdasarkan kecenderungan ideologinya. Partai ada dimana-mana. Setiap lingkungan memiliki "Komite pembela revolusi". Keanggotaan komite ini dimandatkan pada semua remaja. Komite ini merekam kehadiran setiap anggotanya. Organisasi inilah yang berperan untuk menjaga kebersihan jalan, memotong rumput dan memelihara poster-poster propaganda di setiap sudut tempat.
Disamping aspek-aspek absurd tersebut, watak paraniod-an Castro juga memiliki sisi gelap yang mendalam. Sebagai tambahan bagi aktivitas pelayanan publik, komite pembela revolusi, juga dilibatkan dalam perannya sebagai penjaga. Ini berarti para anggota komite mengawasi setiap orang yang lalu-lalang dijalan. perilaku yang kontra-revolusi dilaporkan : orang yang mabuk-mabukan pun dicap sebagai kontra-revolusi. Besikap tidak hormat kepada Castro, baik itu lewat omongan atau tulisan, bisa dijatuhi hukuman tiga tahun tahanan.
Para pembangkang dijebloskan ke penjara atau diintimidasi. Data terakhir menyebutkan terdapat sekitar enam ratus tahanan seperti itu. prosedur penahanan tidak mengacu pada standar internasional. terdapat laporan rutin mengenai kekejaman di penjara. Rakyat sipil ditembak mati di bawah suasana yang penuh kecurigaan.
Pada saat mana kediktatoran komunis kebanyakan telah digantikan oleh kekuatan demokrasi, Castro tetap bertahan dalam kekuasaannya. penjelasan yang terpenting atas situasi paradoks ini adalah terletak pada Castro sendiri.
Ini memungkinkannya menjadi simbol pimpinan komunis terkuat yang melebihi kemampuan pemimpin manapun di Blok Timur di era tahun 80-an. Yang lainnya tidak mampu karena, disamping alasan-alasan lain, ialah disebabkan oleh kebangkitan rasa Nasionalisme dan Anti-Nasionalisme yang mejadi karakter Komunisme di Eropa. Castroisme adalah sekaligus Nasionalis dan Komunis. Terlebih lagi Castro tidak memiliki batasan ideologi yang jelas. Pada intinya, ia melihat ideologi sebagai tujuan untuk membenarkan kekuasaan pribadinya.
Dunia seperti dibutakan oleh asap cerutu Castro. Banyak negara dan banyak organisasi yang menerimanya dengan bersahabat: vatikan dan PBB. tapi Castro bukan negarawan, ia adlah diktator. Segala-galanya disubordinasikan dibawah kekuasaannya: HAM, demokrasi, konstitusi negara, pembangunan. Sangat tidak layal membentangkan karpet merah untuk orang seperti Castro.
Bencana ekonomi memaksa Castro agak menlonggarkan cengkramannya atas bidang ini. Hal ini menyebabkan meningkatnya arus barang-barang konsumsi. Namun demikian, Castro masih memandang ekonomi pasar sebagai suatu "penyakit yang mengikis semangat revolusioner". Konsumerisme diijinkan sepanjang itu tidak mengganggu kekuasaannya. Kesenjangan dalam pendapatan memang minimal, tapi tidak demikian halnya dengan kesenjangan kekuasaan.
melalui partainya, Castro tetap mengawasi potensi tumbuhnya ekonomi pasar. Orang-orang Kuba sukses ditangkapi. majalah The Economist menyindirnya sebagai berikut "Orang-orang Kuba hanya diberi banyak tali, sebelum tali itu akhirnya mengikat lehernya sendiri".
Investasi asing yang terus mengalami peningkatan di Kuba makin membuat castro sulit melakukan kontrol. Investasi oleh karenanya menjadi jalan untuk merangsang tumbuhnya demokrasi. Perdagangan adalah senjata kita yang terpenting dalam mencapai tujuan. Membatasi investasi di Kuba berarti memperpanjang kediktatoran. Kebijakan untuk merintangi perusahaan-perusahaan, seperti yang dijanjikan komisi Eropa, tidak layak untuk didukung. Tapi investasi liberal dan kebijakan perdagangan tidak berarti bahwa kita harus meninggalkan sama sekali dialog kritis tentang rezim Castro atas persoalan HAM dan demokrasi.
Disamping aspek-aspek absurd tersebut, watak paraniod-an Castro juga memiliki sisi gelap yang mendalam. Sebagai tambahan bagi aktivitas pelayanan publik, komite pembela revolusi, juga dilibatkan dalam perannya sebagai penjaga. Ini berarti para anggota komite mengawasi setiap orang yang lalu-lalang dijalan. perilaku yang kontra-revolusi dilaporkan : orang yang mabuk-mabukan pun dicap sebagai kontra-revolusi. Besikap tidak hormat kepada Castro, baik itu lewat omongan atau tulisan, bisa dijatuhi hukuman tiga tahun tahanan.
Para pembangkang dijebloskan ke penjara atau diintimidasi. Data terakhir menyebutkan terdapat sekitar enam ratus tahanan seperti itu. prosedur penahanan tidak mengacu pada standar internasional. terdapat laporan rutin mengenai kekejaman di penjara. Rakyat sipil ditembak mati di bawah suasana yang penuh kecurigaan.
Pada saat mana kediktatoran komunis kebanyakan telah digantikan oleh kekuatan demokrasi, Castro tetap bertahan dalam kekuasaannya. penjelasan yang terpenting atas situasi paradoks ini adalah terletak pada Castro sendiri.
Ini memungkinkannya menjadi simbol pimpinan komunis terkuat yang melebihi kemampuan pemimpin manapun di Blok Timur di era tahun 80-an. Yang lainnya tidak mampu karena, disamping alasan-alasan lain, ialah disebabkan oleh kebangkitan rasa Nasionalisme dan Anti-Nasionalisme yang mejadi karakter Komunisme di Eropa. Castroisme adalah sekaligus Nasionalis dan Komunis. Terlebih lagi Castro tidak memiliki batasan ideologi yang jelas. Pada intinya, ia melihat ideologi sebagai tujuan untuk membenarkan kekuasaan pribadinya.
Dunia seperti dibutakan oleh asap cerutu Castro. Banyak negara dan banyak organisasi yang menerimanya dengan bersahabat: vatikan dan PBB. tapi Castro bukan negarawan, ia adlah diktator. Segala-galanya disubordinasikan dibawah kekuasaannya: HAM, demokrasi, konstitusi negara, pembangunan. Sangat tidak layal membentangkan karpet merah untuk orang seperti Castro.
Bencana ekonomi memaksa Castro agak menlonggarkan cengkramannya atas bidang ini. Hal ini menyebabkan meningkatnya arus barang-barang konsumsi. Namun demikian, Castro masih memandang ekonomi pasar sebagai suatu "penyakit yang mengikis semangat revolusioner". Konsumerisme diijinkan sepanjang itu tidak mengganggu kekuasaannya. Kesenjangan dalam pendapatan memang minimal, tapi tidak demikian halnya dengan kesenjangan kekuasaan.
melalui partainya, Castro tetap mengawasi potensi tumbuhnya ekonomi pasar. Orang-orang Kuba sukses ditangkapi. majalah The Economist menyindirnya sebagai berikut "Orang-orang Kuba hanya diberi banyak tali, sebelum tali itu akhirnya mengikat lehernya sendiri".
Investasi asing yang terus mengalami peningkatan di Kuba makin membuat castro sulit melakukan kontrol. Investasi oleh karenanya menjadi jalan untuk merangsang tumbuhnya demokrasi. Perdagangan adalah senjata kita yang terpenting dalam mencapai tujuan. Membatasi investasi di Kuba berarti memperpanjang kediktatoran. Kebijakan untuk merintangi perusahaan-perusahaan, seperti yang dijanjikan komisi Eropa, tidak layak untuk didukung. Tapi investasi liberal dan kebijakan perdagangan tidak berarti bahwa kita harus meninggalkan sama sekali dialog kritis tentang rezim Castro atas persoalan HAM dan demokrasi.

No comments:
Post a Comment