Monday, April 20, 2009

TAK ADA PERSAHABATAN BAGI CASTRO

Hidup di Kuba didominasi oleh kekuatan Castro akan kehilangan Kekuasaannya. Hal ini kadang membawa pada siuasi ABSURD. Bioskop-bioskop ditutup karena dinilai akan mempertontonkan film-film korup seperti "Singing in the rain" dan "Casablanca". Di sekolah-sekolah, kelas-kelas siswa ditentukan berdasarkan kecenderungan ideologinya. Partai ada dimana-mana. Setiap lingkungan memiliki "Komite pembela revolusi". Keanggotaan komite ini dimandatkan pada semua remaja. Komite ini merekam kehadiran setiap anggotanya. Organisasi inilah yang berperan untuk menjaga kebersihan jalan, memotong rumput dan memelihara poster-poster propaganda di setiap sudut tempat.

Disamping aspek-aspek absurd tersebut, watak paraniod-an Castro juga memiliki sisi gelap yang mendalam. Sebagai tambahan bagi aktivitas pelayanan publik, komite pembela revolusi, juga dilibatkan dalam perannya sebagai penjaga. Ini berarti para anggota komite mengawasi setiap orang yang lalu-lalang dijalan. perilaku yang kontra-revolusi dilaporkan : orang yang mabuk-mabukan pun dicap sebagai kontra-revolusi. Besikap tidak hormat kepada Castro, baik itu lewat omongan atau tulisan, bisa dijatuhi hukuman tiga tahun tahanan.

Para pembangkang dijebloskan ke penjara atau diintimidasi. Data terakhir menyebutkan terdapat sekitar enam ratus tahanan seperti itu. prosedur penahanan tidak mengacu pada standar internasional. terdapat laporan rutin mengenai kekejaman di penjara. Rakyat sipil ditembak mati di bawah suasana yang penuh kecurigaan.

Pada saat mana kediktatoran komunis kebanyakan telah digantikan oleh kekuatan demokrasi, Castro tetap bertahan dalam kekuasaannya. penjelasan yang terpenting atas situasi paradoks ini adalah terletak pada Castro sendiri.

Ini memungkinkannya menjadi simbol pimpinan komunis terkuat yang melebihi kemampuan pemimpin manapun di Blok Timur di era tahun 80-an. Yang lainnya tidak mampu karena, disamping alasan-alasan lain, ialah disebabkan oleh kebangkitan rasa Nasionalisme dan Anti-Nasionalisme yang mejadi karakter Komunisme di Eropa. Castroisme adalah sekaligus Nasionalis dan Komunis. Terlebih lagi Castro tidak memiliki batasan ideologi yang jelas. Pada intinya, ia melihat ideologi sebagai tujuan untuk membenarkan kekuasaan pribadinya.

Dunia seperti dibutakan oleh asap cerutu Castro. Banyak negara dan banyak organisasi yang menerimanya dengan bersahabat: vatikan dan PBB. tapi Castro bukan negarawan, ia adlah diktator. Segala-galanya disubordinasikan dibawah kekuasaannya: HAM, demokrasi, konstitusi negara, pembangunan. Sangat tidak layal membentangkan karpet merah untuk orang seperti Castro.

Bencana ekonomi memaksa Castro agak menlonggarkan cengkramannya atas bidang ini. Hal ini menyebabkan meningkatnya arus barang-barang konsumsi. Namun demikian, Castro masih memandang ekonomi pasar sebagai suatu "penyakit yang mengikis semangat revolusioner". Konsumerisme diijinkan sepanjang itu tidak mengganggu kekuasaannya. Kesenjangan dalam pendapatan memang minimal, tapi tidak demikian halnya dengan kesenjangan kekuasaan.

melalui partainya, Castro tetap mengawasi potensi tumbuhnya ekonomi pasar. Orang-orang Kuba sukses ditangkapi. majalah The Economist menyindirnya sebagai berikut "Orang-orang Kuba hanya diberi banyak tali, sebelum tali itu akhirnya mengikat lehernya sendiri".

Investasi asing yang terus mengalami peningkatan di Kuba makin membuat castro sulit melakukan kontrol. Investasi oleh karenanya menjadi jalan untuk merangsang tumbuhnya demokrasi. Perdagangan adalah senjata kita yang terpenting dalam mencapai tujuan. Membatasi investasi di Kuba berarti memperpanjang kediktatoran. Kebijakan untuk merintangi perusahaan-perusahaan, seperti yang dijanjikan komisi Eropa, tidak layak untuk didukung. Tapi investasi liberal dan kebijakan perdagangan tidak berarti bahwa kita harus meninggalkan sama sekali dialog kritis tentang rezim Castro atas persoalan HAM dan demokrasi.

Sunday, April 19, 2009

GENERAL ELECTION CAMPAIGN

Beberapa waktu yang lalu kita baru kita melewati pemilu untuk pemilihan calon legislatif. Pemilu yang katanya pesta demokrasi buat semua rakyat, sedikit banyak meninggalkan asa dan janji-janji bagi masyarakat. Sebelum pemilu dilaksanakan pada tanggal 9 april 2009, tentu saja para calon legislatif melakukan kampanye untuk menarik simpatisan-simpatisan yang akan memilihnya pada pemilu nanti. Tetapi satu hal yang menarik perhatian ialah, bagaimana cara mereka berkampanye, menjual diri mereka, mengumbar janji pada rakyat. Menurut pendapat saya cara yang di lakukan oleh para calon legislatif di negeri ini belumlah profesional. Semuanya masih dengan cara-cara lama yang tergolong primitif dan tidak inovatif. Mungkin beberapa partai seperti Gerindra, sedikit lebih inovatif dalam berkampanye, mulai dari iklan di TV sampai dengan mobile advertisement tidak heran jumlah simpatisan gerindra tergolong banyak yang datang saat kampanye pusat di gelora bung karno, sebanyak kurang lebih 200.000 orang yang mengikuti. Angka yang cukup luar biasa untuk sebuah partai yang baru berdiri seperti anura, bahkan partai-partai pioneer lainnya tidak semeriah kamanye gerindra contohnya partai demokrat, pada kampanye pusat nya saja, hanya sekitar 40.000 orang yang hadir.

Kampanye di negri kita tercinta ini selalu syarat dengan money politic. Pernah suatu kali saya melihat di sebuah acara berita yang mereportasekan seseorang yang berprofesi sebagai tukang becak mempunyai 20 buah kaos partai yang berbeda satu dengan yang lain nya. Dia juga mengakui bahwa elama kampanye ini mempunyai lahan pekerjaan baru. "yah lumayan mba, kalo partai yang besar ngasih nya 30.000an kalo partai yang ga terkenal paling gede cuma 20.000" ujar sang tukang becak. Lucu memang mendengarnya, bila kita hitung dengan jumlah partai yang mengikuti putaran pemilu legislatif ini, berarti tukang becak tadi mendapatkan penghasilan lebih dari 800.000 dalam jangka waktu 2 minggu. Sebuah nominal yang hampir mustahil ia dapatkan dari menarik becak dengan waktu sesingkat itu. Ya begiitulah ceritanya kalau kampanye di indonesia.

Tapi apakah anda semua pernah membayangkan bagaimana seharusnya kampanye pemilu yang sukses itu diselenggarakan???? Mungkin kita boleh mencontoh kisah sukses dibalik kampanye walikota sao paulo, brazil yang akhirnya terpilih kembali untuk menduduki jabatan tersebut.

Saturday, April 18, 2009

FREEDOM AND CIVIL SOCIETY

Partisipasi masyarakat, adalah dasar dari suatu masyarakat sipil yang bebas. Warga negara harus memiliki kebebasan pribadi yang lebih besar dan juga adanya pengurangan peran negara, birokrasi dan peraturan yang melumpuhkan di dalam komunitas-komunitas lokal. Peraturan dan pengawasan berlebihan, prioritas-prioritas yang salah, kebuntuan atau reformasi yang dimulai setengah hati karena kekurangan infrastruktur seringkali menghambat unsur-unsur didalam masyarakat sipil untuk sepenuhnya menjajaki potensi mereka.

Liberal Messages
  • Lebih banyak kebebasan dan tanggung jawab melalui privatisasi yang konsisten dan promisi kompetisi pada tingkat lokal. Semua tugas yang dijalankan oleh negara harus bisa diperiksa dan sektor publik pada akhirnya harus direduksi hanya pada tugas-tugas utamanya saja. Dengan nyerahkan tugasnya, Negara harus memberi jalan bagi kompetisi yang murni.
  • Memperkuat masyarakat sipil dengan cara merampingkan birokrasi dan deregulasi. Masyarakat dan perusahaan-perusahaan berhak atas pemerintah daerah yang modern, efisien dan customer-oriented.
  • Masyarakat sipil liberal harus hidup dengan warga negara yang aktif. Masyarakat sipil berkembang karena keterlibatan semua kekuatan masyarakat sipil yang bertindak di tingkat lokal melalui keaktifan mereka, pengorganisiran diri dan partisipasi aktif (misalnya dengan secara sukarela menduduki jabatan di komunitas, atau menjadi patron, keterlibatan pada kegiatan-kegiatan sosial dalam komunitas).
  • Sebuah inisiatif liberal ke arah peningkatan partisipasi dan perlibatan warga dibutuhkan mendesak! sebuah kebijakan liberal yang inovatif di tingkat lokal dapat menjadi alat eksperimen bagi suatu budaya baru di dalam suatu masyarakat sipil, dimana kebebasan dan tanggung jawab memiliki prioritas dibanding ciri-ciri negara pengayom.

Relevansi Politik

Gagasan kebebasan rentan terhadap resiko karena sekali orang terbiasa pada negara pengayom dan tidak menerima gagasan masyarakat sipil yang liberal, peluang untuk menentukan hidup mereka sendiri jadi hilang. Terdapat ancaman dominasi kolektif yang dapat mencabut hak individu untuk bicara untuk kepentingan dirinya sendiri, ancaman pasar terbatas yang menawarkan peluang lebih sedikit bagi pengembangan potensi, serta ancaman menurunnya partisipasi dalam suatu masyarakat yang demokratis.

Birokrasi negara pengayom tidak hanya membutuhkan biaya besar, tapi juga mengantongi kebebasan yang terlalu besar. ia mengambil terlalu banyak dan memberi terlalu sedikit. Regulasinya yang cenderung banyak mencekik inisiatif perorangan, dan warga tidak lagi diajarkan pentingnya saling membantu

Adalah warga negara yang bertanggung jawab, bukan subyek yang menghamba dan tergantung, yang memainkan peran yang menentukan. Inilah mengapa pengembangan pribadi yang bebas dalam suatu masyarajat sipil sekali lagi harus menjadi kredo kebijakan liberal. Untuk tujuan tersebut, suatu inisiatif liberal bagi partisipasi dan keterlibatan masyarakat yang lebih luas dan mendesak dibutuhkan.